Spider-Man: Far From Home, Belajar Tanggung Jawab

5 minute read

“With great power, comes great responsibility”

Bagi kalian yang setia mengikuti kisah Spider-Man, tentu kutipan tersebut sudah tidak asing lagi. Diucapkan oleh Paman Ben terhadap Peter Parker, alter ego Spider-Man, kalimat tersebut mengajarkan bahwa kekuatan super tidak boleh digunakan dengan sesuka hati, namun dengan penuh tanggung jawab. Nah, tanggung jawab menjadi tema besar yang diusung Spider-Man: Far From Home, film kedua Spider-Man di Marvel Cinematic Universe (MCU)

Spider-Man: Far From Home mengambil setting beberapa hari setelah pemakaman Tony Stark di akhir Avengers: Endgame. Setelah Tony Stark memutarbalikkan efek Decimation, atau disebut sebagai The Blip di film ini, yang dilakukan Thanos lima tahun lalu di event Avengers: Infinity War, kehidupan sekolah Peter Parker (Tom Holland) kembali normal. Meski begitu, karena Peter termasuk yang hilang dalam The Blip, sekarang ia satu kelas dengan murid-murid yang lima tahun lalu adalah junior-juniornya.

stealth suit
Stealth Suit Spidey (Foto: Sony)

Di sisi lain, peristiwa yang terjadi pada Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame masih berdampak terhadap Peter. Peristiwa berdarah tersebut membebaninya secara psikologis, apalagi ia kehilangan mentornya di sana, Tony Stark (Robert Downey Jr.). Beban yang ia tanggung membawa Peter sampai ke satu titik di mana ia malas untuk menjadi Spider-Man lagi. Ia ingin merasakan kehidupan yang normal seperti remaja kebanyakan di mana ia bisa bermain dengan kawan-kawannya, berpacaran dengan perempuan yang ia cintai, tanpa harus memikirkan keselamatan publik setiap menitnya.

Sayangnya, keinginan Peter untuk memiliki kehidupan normal tak semudah yang ia bayangkan. Nick Fury (Samuel L. Jackson) berkali-kali meminta bantuannya untuk menghadapi musuh baru bernama the Elementals. The Elementals, yang berwujud monster dari berbagai elemen dasar, menimbulkan bencana di berbagai negara yang ditakutkan Fury akan membawa bumi ke kondisi yang lebih parah pasca-Thanos.

Menurut Fury, Spider-Man adalah satu-satunya anggota Avengers yang bisa ia jangkau di saat tidak ada satupun dari Avengers mulai dari Dr. Strange hingga Captain Marvel yang bisa membantunya. Meski begitu, bukan berarti tidak ada bantuan lain dari luar Avengers.

Spider-Man: Far From Home memperkenalkan “jagoan” baru bernama Quentin Beck alias Mysterio (Jake Gyllenhaal). Mengklaim dirinya hadir dari bumi yang berbeda, Earth-833, Beck mengatakan bahwa buminya hancur akibat serangan The Elementals. Ia tidak ingin bumi-bumi lain mengalami nasib serupa, oleh karenanya ia memutuskan untuk melakukan perjalanan antar-dimensi yang menjadi mungkin akibat peristiwa The Blip. Kehadiran Beck tak ayal menimbulkan pemikiran di diri Peter bahwa mungkin ada jalannya untuknya pensiun sebagai Spider-Man.

Konflik di dalam diri Peter perihal memilih hidup normal atau tetap menjadi Spider-Man menjadi kisah utama di film ini. Berkali-kali sutradara Jon Watts menyuguhkan saat-saat di mana Peter galau dengan pilihannya hingga kita dibuat gemas. Untungnya, masa-masa galau tersebut tampil realistis tanpa dramatisasi berlebihan karena pemicunya adalah hal-hal yang umum dialami remaja mulai dari rasa iri, rasa cemburu, hingga rasa takut ditikung teman sendiri.

Bagaimana kegalauan tersebut kemudian berkembang menjadi masalah tanggung jawab seorang superhero pun digarap dengan baik. Peter tidak ditampilkan serta merta meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang Spider-Man begitu ia mendapati Mysterio lebih “heroic” dibandingkan dirinya.

Lewat naskah dari Chris McKenna dan Erik Sommers, Peter diceritakan tetap berupaya menjadi seorang superhero sebaik mungkin, meski jauh di dalam lubuk hatinya ia sudah malas. Oleh karenanya, walaupun kegalauannya kadang-kadang bisa bikin kita kesal sendiri, di satu sisi kita bisa bersimpati dengannya, sebab Peter tetaplah seorang bocah yang belum tahu dunia namun mendadak harus menjaga kedamaiannya.

Perlu diakui bahwa tema tanggung jawab tersebut mirip dengan tema yang diusung sutradara Sam Raimi di Spider-Man 2 (2002). Di Spider-Man 2, Peter juga mulai malas menjadi Spider-Man ketika jarak antara dirinya dan Mary Jane menjadi semakin jauh karena tanggung jawabnya sebagai pahlawan kota New York. Tetapi, tidak perlu khawatir, sutradara Jon Watts mengeksekusi tema besar tersebut dengan cara yang berbeda.

Tema tanggung jawab di Spider-Man: Far From Home lebih ringan dan pas dengan setting dunia remaja, sementara tema tanggung jawab di Spider-Man 2 lebih dewasa dan dramatis. Tanpa menilai yang satu lebih baik dari yang lain, keduanya memiliki kelebihan masing-masing yang harus dilihat dari konteks cerita yang disampaikan.

Lebih lanjut, pengembangan karakter Peter di Spider-man: Far From Home juga lebih asyik karena teman-teman sekelasnya memiliki porsi lebih dibandingkan prekuelnya, Spider-man: Homecoming. Karakter-karakter mereka, mulai dari MJ, Betty Brant (Angourie Rice), hingga Ned Leeds (Jacob Batalon), lebih hidup dan membantu Peter menentukan arah hidupnya. Bahkan, mereka juga berperan membantu Spider-Man menghadapi musuh-musuhnya, tidak berakhir sebagai korban atau target incaran saja.

teman peter parker
Teman-teman Peter Parker (Foto: Sony).

Dari sekian banyak teman-teman yang dimiliki Peter, tentu saja yang paling menonjol di film ini adalah MJ. Dikembangkan sebagai love interest Peter, MJ ditampilkan sebagai perempuan yang independen, kuat, namun kikuk. Baik MJ maupun Peter sama-sama kikuk ketika harus menunjukkan perasaan mereka, sehingga hubungan mereka berkembang secara natural, tidak mendadak sudah menjadi sepasang kekasih.

Pujian serupa harus diberikan ke karakter Mysterio. Karakternya memiliki peran yang tak kalah penting terhadap diri Peter. Malah, pengembangan karakter Peter tak akan bergerak maju di film ini jika tidak ada Mysterio yang diperankan secara historikal oleh Jake Gyllenhaal. Tanpa ingin memberikan spoiler, ada banyak kejutan dari karakter yang memiliki helm seperti akuarium ikan mas tersebut.

Di luar karakteristik dan cerita yang apik, hal yang menonjol dari film ini adalah visualisasinya. Spider-Man: Far From Home memiliki visualisasi yang surreal dan psikedelik berkat kehadiran Mysterio yang ahli memainkan ilusi. Kualitasnya boleh dikatakan setara dengan visualisasi di film Doctor Strange yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di MCU.

Oleh karenanya, sebisa mungkin, tontonlah Spider-Man: Far From Home di format 3D karena visualisasinya mampu membawa kita ke dunia lain yang tidak hanya fantastis, tetapi juga horror dan surealis. Tidak berlebihan menyebut Spider-Man: Far From Home mencoba memberdayakan teknologi 3D yang sudah mulai jarang dipakai itu.

grafiti tony stark
Peter Parker masih berada di bayang-bayang Tony Stark (Foto: Sony)

Satu-satunya hal yang patut disayangkan dari film ini adalah kaitannya dengan tokoh Tony Stark. Meski kita tahu bahwa tokoh tersebut telah wafat di Avengers: Endgame, perannya masih terasa di kisah besar Spider-Man: Far From Home. Berbagai plot penting, ataupun subplot, memiliki benang merah dengan sang Iron Man.

Hal tersebut tak pelak membuat dunia Spider-man: Far From Home terasa agak sempit karena segala hal seperti dipaksakan berhubungan dengan tokoh Tony Stark, tak terkecuali dalam hal Peter mencari solusi atas masalah pribadinya.

Bisa dipahami bahwa Marvel melakukan hal ini untuk mengembangkan Spider-Man sebagai the next Iron Man, tetapi Play Stop Rewatch beranggapan bahwa tetaplah ideal tokoh Spider-Man di MCU dikembangkan untuk keluar dari bayang-bayang sang mentor.

Akhir kata, Spider-Man: Far From Home adalah salah satu film Spider-Man terbaik yang pernah ada. Berbagai peningkatan terjadi di segala sektor mulai dari sisi cerita hingga visualisasi. Marvel Studios berhasil membuat Spider-Man: Far From Home terasa segar dan berbeda dari film-film Spider-Man sebelumnya, walau keakuratannya sedikit dikorbankan untuk hal itu.

Comments